Kamis, 20 November 2008

SUFISME DAN PEMILU 2009

(Catatan Spiritual bagi para Politisi menjelang Pemilu)
Oleh Imron Supriyadi

Ada kesan berlebihan yang mungkin kemudian muncul di benak kita, saat saya menghubungkan dunia sufi dengan hasil Pilkada Sumsel. Tetapi saya memaklumi dengan pandangan sinisme itu. Sebab dari kebanyakan kita melihat fenomena alam dalam realitas politik, sering dilihat dari perspektif sebab akibat. Padahal dalam konteks sufisme disebut dalam Kitab Al-Hikam karya Syeh Ibnu Athoillah, melalui penjelasan KH. Imron Jamil asal Jombang, Allah Swt menciptakan dua hal itu (sebab dan akibat) tidak dalam garis linier, melainkan dalam lintas yang berbeda. Dengan kata lain, suatu kali Allah Swt menciptakan sebab tanpa akibat. Dan di kali lain Allah Swt menciptakan akibat tanpa diikuti dengan sebab. Atau suatu kali Allah Swt juga menciptakan keduanya dalam garis linier dan muncul bersamaan.
Dalam konstelasi politik Indonesia misalnya, Gus Dur sempat duduk menjadi presiden. Tetapi dalam logika politik, ketika itu Gus Dur tidak memiliki potensi yang menjadi sebab Gus Dur bisa duduk di kursi presiden. Pada masa itu, suara Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) belum signifikan dapat mengusung Gus Dur menjadi presiden. Tetapi karena Allah Swt berkehendak memunculkan ‘akibat’ maka tanpa ‘sebab’ pun Gus Dur bisa duduk sebagai presiden. Sebaliknya, dalam perjalanan waktu Allah Swt kemudian memunculkan keduanya. Gus Dur kemudian jatuh oleh parlemen sebagai akibat dugaan terlibatnya Gus Dur dalam kasus Bruneigate. Kasus Bruneigate sebagai sebab. Walapun Mahkamah Agung sudah menyatakan Gus Dur bebas dari kasus Bruneigate, tetapi ketika Allah berkehendak terhadap Gus Dur untuk turun (sebagai akibat), maka keluarlah Dekrit Presiden yang kemudian mengusung Megawati naik menggantikan Gus Dur.
Artinya dalam peta kehidupan, Allah Swt tidak selalu menciptakan sebab dan akibat dalam garis berbanding lurus, seperti halnya satu 1+1=2. Justru Allah Swt menciptakan sebab dan akibat dengan ruang yang berbeda. Bila dianalogikan dalam “hukum listrik”, sebab dan akibat memiliki jalur (baca ; kabel) yang berbeda. Sebut saja sebab sebagai kutup positf, dan akibat menjadi kutub negatif. Ketika kemudian manusia mempertemukan keduanya (positif negatif), dalam logika yang terjadi kemudian bukan terangnya bola lampu neon, melainkan menjadi dua kutub itu konsleting (terjadi hubungan arus pendek). Pun manusia ketika melogika-kan hidup dengan hukum sebab dan akibat, maka yang muncul kemudian adalah depresi atau stress karena antara usaha dan hasil tidak berbanding lurus.
Kasus terakhir seperti gempa di Lahat Sumsel dan longsor di Cianjur Jawa Barat. Dalam banyak ungkapan para ulama peristiwa itu sebagai, teguran, cobaan atau bahkan laknat, karena sebagian masyarakat sudah lalai kepada Allah Swt. Tetapi dalam perspektif Sufistik apapun peristiwanya, merupakan strategi dan skenario Allah Swt untuk mengembalikan kesadaran manusia pada kemanusiaannya. Manusia tidak berhak meng-klaim apakah itu teguran, cobaan atau laknat. Semua itu hak Allah Swt. Sama dengan keluarnya Nabi Adam As dari sorga. Selama ini yang kita tahu Nabi Adam diusir dari Sorga karena memakan buah khuldi sebagai akibat bujukan syetan. Dalam kacamata sufi berhasilnya syetan membujuk Nabi Adam yang kemudian menjadikan Adam terusir dari sorga juga tidak lepas dari skenario Allah Swt. Tujuannya, Allah ingin mencerdaskan Adam dengan mengusirnya dari sorga, untuk kemudian turun ke bumi. Adam akhirnya memiliki kecerdasan dan mengenal bumi dengan segala isinya atas izin Allah Swt. Bila Adam tetap tinggal di sorga maka Adam tidak pernah akan mengenal dedaunan, pepohonan dan ayat-ayat Allah lain yang terbentang luas di muka bumi.
Realitas ini dalam kacamata logika tidak bisa diterima akal sehat. Ini sebagai akibat cara pandang manusia kebanyakan yang melihat kenyataan hidup, dalam konteks apapun selalu dalam hukum kausalitas (sebab-akibat). Akibatnya, bila hasil akhir tidak sesuai dengan usaha dan pengorbanan sebelumnya manusia sering menyalahkan orang lain, mencari kambing hitam atau bahkan bisa masuk rumah sakit jiwa akibat shock. Bila kemudian manusia tetap berpegang pada hukum kausalitas dan logika material dalam melihat realitas politik, maka yang muncul kemudian adalah ke-tertekanan-an batin atau depresi, sebagai akibat cita-cita yang gagal. Padahal semua itu tidak akan terjadi bila dikembalikan dalam konsep sufistik. Artinya, bila kekalahan atau kemenangan dijadikan sebagai proses penyadaran spiritual, maka bagi yang menang tidak harus membuatnya sombong dan angkuh atau sebaliknya bagi yang kalah justru memunculkan kalimat : Alhamdulillah, karena Allah Swt masih menyapa dengan pemeliharaan pada seorang hamba yang rentan berbuat dosa dengan jabatannya.
Memahami dunia sufi, memang tidak bisa dengan logika material. Dunia sufi hanya akan bisa masuk dalam hati ketika manusia memahaminya dengan keimanan (keyakinan) bukan dalam perspektif materialistik matematis atau hukum kausalitas. Sebab dunia sufi ini mengajak manusia untuk kemudian mendudukkan posisi manusia dalam proporsi yang sebenarnya, yaitu menjadi kawula (karyawan) Allah Swt, yang sewaktu-waktu akan dipindahtugaskan atau bahkan dipecat dari jabatan keduniaannya tanpa lebih dulu memberitahu. Termasuk kematian adalah wujud nyata pemecatan Allah terhadap manusia untuk tidak lagi menjadi karyawan Allah di bumi. Masalahnya bisa berbeda-beda. Mungkin karena tugas manusia sudah cukup, atau kematian bisa menjadi bagian penyelematan manusia agar tidak berpanjang-panjang melakukan dosa di bumi.
Bila kesadaran ini sudah lekat dalam batin di setiap hati para pengelola negara dalam konteks daerah di Indonesia, maka yang akan muncul kemudian bukan kesombongan bagi yang menang atau merasa kecil hati bagi yang kalah. Bila mendapat kemenangan, sudah seharusnya dapat menjadi proses penyadaran bahwa jabatan adalah titipan yang sewaktu-waktu akan diambil Allah Swt bila dikemudian hari para pemegang amanat (wakil rakyat . presiden) tidak bisa merawat barang titipan ini. Bagi para pemenang atau wakil rakyat yang terpilih, seharusnya tidak kemudian dirayakan dalam konteks material, tetapi malah sebaliknya. Kemenangan disadari menjadi amanat teramat berat yang didalamnya sangat banyak peluang berbuat dosa, sehingga memerlukan benteng kuat agar tidak terjerumus dalam kesalahan kebijakan. Sedikit saja terpeleset, maka amanat jabatan ini bisa saja akan diambil Allah Swt tanpa ada sebab sebelumnya. Karena jabatan adalah sangat berpeluang berbuat dosa, maka hanya kata ‘keberhatian-hatian’ saja yang pantas menjadi pagar pembatas bagi para pemegang kepemimpinan bangsa ini, agar dalam menjalankan tampuk kepemimpinan di Indonesia tidak akan terjerumus dalam kubangan kenistaan dan dosa, baik dosa sosial terlebih lagi dosa spiritual.
Bagi pasangan presiden dan wakil rakyat yang kalah, seharusnya ‘kegetiran’ itu disyukuri, karena Allah Swt telah memberikan ruang pemeliharaan spiritual bagi yang kalah, untuk tidak dekat dengan peluang korup (baca ; dosa) di kursi kekuasaan. Justeru, menjadikan kegagalan dan kekalahan dalam kompetisi politik sebagai wujud Rahman dan Rahim-nya Allah terhadap seorang hamba, akan lebih bernilai ibadah ketimbang kekalahan dan kegagalan dijadikan alasan untuk meligitimasi atau pembenaran pihak yang kalah untuk menggulingkan lawan politik-nya demi meraihnya kekuasaan.
Ada sebuah analogi yang penah saya dapat dari Budayawan Tanjung Enim, Abdul Madjid. Pada masa usia hitungan bulan, setiap kita pernah mengencingi atau memberaki kedua orang tua dalam gendongan tanpa kesengajaan. Tetapi orang tua kita sama sekali tidak membalas dengan kekesalan apalagi dengan kemarahan. Malah sebaliknya, orang tua kita dengan belaian kasih dan sayang, mengganti popok atau cangcut agar kita tidak terkena penyakit dari air kencing atau dari tinja yang keluar. Setelah itu kedua orang tua kita memberi ciuman bertubi-tubi sebagai akibat rasa kasih dan sayang. Tak ada kekesalan. Tak ada kemarahan. Mengapa? Karena ada kasih sayang disana. Seburuk apapun yang diberikan oleh seorang bayi dalam gendongan, orang tua kita tidak pernah marah. Ia justru membalasnya dengan kasih dan sayang.
Pun demikian halnya dengan kekalahan sebagian kandidat atau caleg. Bila diibaratkan para caleg dan ‘kandidat penguasa’ sebagai hamba yang sedang menggendong, maka secara implisit, mereka juga sedang menggendong perintah Allah, berupa perjuangan untuk memenangi kompetisi. Namun ketika Allah kemudian memberikan balasan perjuangan mereka dengan kekalahan, mestikah ini dibalas dengan kekesalan atau kemarahan? Bila kemudian kekalahan dinilai sebagai bentuk rasa kasih sayang dari Allah Swt, maka tidak perlu ada lagi ke-kisruhan yang akan mengakibatkan kerugian bagi rakyat. Sebaiknya kekalahan bisa diposisikan atau diterima dengan kasih dan sayang dari Allah, sehingga yang timbul dalam diri pihak kalah dan timses-nya adalah bagaimana dengan kekalahan bisa membangkitkan kecintaan kepada Sang Pencipta alam semesta yang teleh memelihara dari peluang berbuat dosa.
Memperjuangkan keadilan dan kebenaran melalui KPU atau bahkan Mahkamah Agung untuk mengungkap dugaan kecurangan dibeberapa titik pemilihan, merupakan tugas hamba. Berjuang mencari kebenaran adalah bagian amar ma’ruf nahi munkar yang menjadi perintah Allah Swt. Tetapi jauh sebelum ada hasil siapa yang kalah dan siapa yang menang, patut menjadi renungan bagi mereka yang kalah, dalam konsep sufistik tidak ada hubungan antara perjuangan dan hasil. Bekerja, berjuang, ihtiar dan doa adalah tugas atau perintah Allah Swt. Tetapi terhadap hasil akhir dari perjuangan, bukan hak manusia untuk menghitungnya. Kita sering mengatakan; manusia hanya bisa berencana dan Tuhan yang menentukan. Tetapi dalam banyak hal, ketika hasil jerih payah seorang hamba tidak sebanding dengan perjuangan dan pengorbanannya manusia kemudian menuduh atau mencurigai Allah Swt. Mereka kemudian berteriak, Allah tidak adil. Allah belum memberi rizki dan lain sebagainya. Padahal, disaat mereka berteriak, mereka tidak sadar kalau mulut untuk berteriak itu adalah titipan Allah Swt. Dan ketika mereka memprotes keras atas ketidakadilan Allah, mereka tidak sadar kalau yang memberikan napas adalah Allah Swt. Bila semua badan kita ini adalah milik Allah Swt, mestikah kita akan berteriak ; Allah tidak adil! sementara satu denyut napaspun kita tidak pernah membayar? Inilah perlunya melihat, bahwa bukan hanya realitas politik saja yang diatur Allh Swt, tetapi daun jatuh di muka bumi sekalipun tidak lepas dari skenario Allah Swt.
Perlu menjadi renungan, dalam perspektif sufistik Allah Swt tidak selalu membalas kebaikan materi dengan balasan materi yang sepadan, tetapi Allah Swt memiliki kebijakan yang demikian arif terhadap hal apa yang pantas diberikan bagi hamba yang telah berjuang demi tegaknya keadilan, apakah materi atau non materi di lauhil mahfudz.
Dikisahkan oleh KH. Imron Jamil, Si Fulan membaca ayat Al-Quran yang menyebutkan “Barang siapa yang berbuat satu kebaikan, maka Allah akan membalas 10 kali lipat” Usai membaca ayat ini, Si Fulan kemudian memberikan uang Rp. 100 ribu rupiah kepada seseorang yang secara kebetulan melintas di depan rumahnya. Si Fulan dengan hati yang lapang merasa lega, karena dalam waktu dekat Allah akan membalas kebaikan 100 ribu dengan 1 juta. Tetapi sampai ba’da Isyak balasan 1 juta rupiah itu tidak diterima Si Fulan. Dalam masa menunggu, Si Fulan kemudian menggerutu, mulai mencurigai Allah mengapa Allah tidak membalas kebaikan, padahal Allah berjanji akan melipatgandakan kebaikan seorang hamba.
Kalimat kesal dan sedikit umpatan Si Fulan ini di dengar malaikat, untuk kemudian dilaporkan kepada Allah.
“Ya, Allah. Di bumi ada hambabmu yang kesal dan menggerutu karena Engkau tidak membalas kebaikan yang telah dia lakukan. Sementara Engkau berjanji akan melipatgandakan satu kebaikan dengan 10 kali lipat,” malaikat mengahadap kepada Allah menceritakan perilaku Si Fulan.
Allah kemudian menyuruh malaikat untuk melihat cacatan kebaikan Si Fulan. Dalam catatan itu tertera, pada pukul 15.00 WIB, Si Fulan tertabrak sepeda motor di pasar dan dirawat di Rumah Sakit biayanya 1 juta rupiah. Tetapi karena Si Fulan menunggu balasan 1 juta rupiah di rumah dan tidak pergi ke pasar, maka Allah membalas 100 ribu rupiah itu dengan keselamatan dari kecelakaan yang nilainya sama dengan 1 juta rupiah.
Memahami tulisan ini tidak harus dalam kacamata material matematis, melainkan dengan keimanan (keyakinan). Sebab pemahaman sufi dalam konteks ini tidak bisa dianalogikan dengan wilayah logika melainkan dengan wilayah batiniyah. Sebab ketika pemahaman sufistik dilogika-kan maka setiap manusia akan bertabrakan dengan konsep ilmiah yang selama ini manjadi landasan berpikir bagi banyak manusia. Sekalipun Al-Quran merupakan kitab suci yang ilmiah, tetapi dalam memahami metafor-metafor dalam Al-Quran tidak semua bisa dipahami dalam persepktif materi sebagaimana selama ini yang banyak dilakukan beberapa kalangan.
Dalam konteks ini, baik yang kalah dan yang memang, apapun hasilnya sudah barang tentu harus kembali kepada penyadaran bahwa yang memenangkan atau yang mengalahkan bukanlah rakyat atau partai politik, tetapi yang mengangkat dan yang menjatuhkan hanya Allah Swt. Semua itu sudah menjadi cacatan dan ketentuan Allah Swt di lauhil mahfudz jauh sebelum seseorang mencalonkan diri sebagai kandidat. Sebagai catatan, bukan saja bagi para kandidat yang kalah dan menang di masa mendatang, tetapi untuk semua kita, tugas manusia adalah berjuang, ber-ihtiar dan berdoa, sebab ini tugas dan perintah. Tentang bagaimana hasil akhir dari perjuangan, bukan urusan manusia. Kapan, dimana dan bentuknya balasan itu, hanya Allah Swt yang mengatur. Dengan demikian, apapun hasilnya baik atau buruk harus dihadapi dengan kecintaan (mahabbah) kepada Sang Maha Pencipta. Sehingga keberhasilan atau bahkan kegagalan itu bukan membuat kita lalai dengan amanat-Nya, tetapi mengantarkan kita pada ketaatan dan bukan pada pengingkaran Tuhan. Allah megangkat yang menang, dan menjatuhkan yang yang kalah. Ini kebijakan. Keduanya kini kembali menunggu kebijakan baru yang barasal dari langit. (*)

Tanjung Enim, 14 November 2008